Kamis, 24 November 2011

Ranu Pani - TN Bromo Tengger Semeru

Kawasan TN. Bromo Tengger Semeru (TN. BTS) merupakan kawasan konservasi dengan luas 50.276,20 ha, yang secara administratif termasuk dalam 4 wilayah Kabupaten (Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan).

Salah satu objek wisata (labaratorium alam) yang ada di TN BTS adalah Ranu Pani, seluas 1 ha dan merupakan perkampungan terakhir dan tempat persiapan pendakian ke Gunung Semeru, kondisinya saat ini telah mengalami pendangkalan dan sedimentasi.

Kegiatan ini dadakan (hanya 1hari) yang tujuannya belajar mumpung ada ahlinya dan sekalian nambah jam terbang dilapangan, sebenarnya ini adalah kali pertama memasuki kawasan TN BTS, pas awal tahun 2011, bertepatan 33 tahun, dan akhirnya menjadi sering sekali ke Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

CA Sempu

CA. Pulau Sempu terletak di sebelah selatan Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kec Sumber Manjing Wetan, Kab. Malang, Jawa Timur.

Kegiatan ini dilakukan pada akhir tahun (21 Desember 2010) sebagai sarana rekreasi dan ngumpul-ngumpul para peneliti KRP yang selama setahun penelitian, publikasi & aktivitas risetnya sendiri-sendiri.


Sempu merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam, dengan luas area 877ha.

Kawasan ini merupakan kawasan pelestarian yang dijaga keutuhan dan keasliannya. sehingga kelestariannya berlangsung secara alami tanpa ada campur tangan manusia.

Sesuai dengan status dan fungsinya, Pulau Sempu hanya diperbolehkan dikunjungi dengan keperluan pendidikan serta kegiatan lain yang menunjang ilmu pengetahuan.

Sehingga semua kegiatan yang sifatnya rekreasi atau wisata tidak diperbolehkan dilakukan didalam kawasan ini karena Pulau Sempu bukan tempat wisata, tempat rekreasi,tempat camping atau bumi perkemahan. Dalam pelaksanaan kegiatan di kawasan Pulau Sempu, diperlukan SIMAKSI (surat izin masuk kawasan konservasi).

Beberapa lokasi yang terdapat di Pulau Sempu antara lain: Pasir Putih, Pantai Waru-waru, Teluk Ra’as, Telaga Lele (danau air tawar), Teluk Air Tawar (sumber air tawar di pantai), Pantai Gebang, Pantai Caluk ilang, Goa Macan, Teluk Semut, Pantai Tanjung, Pantai Setigen, Pantai Setumbut, Pantai Karetan, Pantai Pondok Kobong, Pantai Pelawangan, Pantai Baru-baru, Teluk Geladakan, Segoro anakan (danau air laut), Pantai Pasir kembar satu, Pantai Pasir kembar dua, Pantai Pasir panjang, Pantai Serguk, Telaga Sat, Telaga Panjang, dan masih banyak lokasi-lokasi lain yang biasa disebut blok patroli oleh Polisi Kehutanan.

Untuk menuju kawasan Pulau Sempu, diperlukan penyeberangan dari Pantai Sendangbiru dengan menggunakan perahu wisata sekitar 15menit.


TN Baluran

TN Baluran terletak di Kec. Banyuputih, Kab. Situbondo, Propinsi Jawa Timur, seluas 25.000 Ha.



Kegiatan ini cuma sekedar refreshing, berhenti sejenak dari rutinatas kantor, sambil bercengkrama (mencari inspirasi ide studi & penelitian) dengan para dosen & mahasiswa HIMBIO dalam rangkaian acara
P3L (Pelatihan dan Pengembangan Penelitian Lapangan).
Terakhir ke TN Baluran 10 tahun yang lalu, saat masih kuliah di S1 Biologi Unair, baru sempat tahun ini dan banyak yang berubah.


Pintu masuk TN Baluran & Basecamp

P3L (Pelatihan dan Pengembangan Penelitian Lapangan).

TUJUAN

  • Menumbuhkan minat dan kreativitas mahasiswa Departeman Biologi dalam bidang penelitian lapangan.
  • Melatih dan mengembangkan kemampuan dalam bidang penelitian lapangan bagi mahasiswa Departemen Biologi .

SASARAN

Seluruh warga HIMBIO termasuk para ALUMI yang berminat ikut.

BENTUK KEGIATAN

Pelatihan penelitian di lapangan dan penyusunan laporan penelitian.

WAKTU PELAKSANAAN

Liburan Semester Ganjil (9-12 Februari 2011).

View pemandangan dari Tower Bekol

Senin, 10 Oktober 2011

LIPI 2006

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Tugas :

Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang ilmu pengetahuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Visi :

Menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia yang mendorong terwujudnya kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis.

Saat Orientasi LIPI

Saat Orientasi Kebun Raya

Saat Prajabatan


informasi lebih dapat dilihat pada
http://www.lipi.go.id/

MBI - Dieng

MBI (Masyarakat Biodiversitas Indonesia)

Latar Belakang

MBI (Masyarakat Biodiversitas Indonesia) adalah organisasi yang bergerak dalam lingkup penelitian, perlindungan, dan pemanfaatan biodiversitas secara berkelanjutan pada tingkat gen, spesies, ekosistem, dan budaya pemanfaatannya (etnobiologi).

Pendirian MBI diawali dari pembicaraan intensif via email antara pengelola dengan para penulis jurnal “Biodiversitas, Journal of Biological Diversity” dari berbagai kota di Indonesia dan di luar negeri pada paruh akhir tahun 2005. Jurnal tersebut pertama kali diterbitkan pada awal tahun 2000, dimana pendiriannya tidak lepas dari kegiatan Seminar dan Lokakarya Nasional mengenai Perlindungan Keanekaragaman Hayati di Jawa pada pertengahan tahun 1999. Pada awalnya pembicaraan antara pengelola dan penulis ditujukan dalam rangka menjembatani kebutuhan penulis untuk mempublikasikan naskah ilmiah secara cepat, mudah, dan murah dengan kebutuhan pengelola untuk mendapatkan naskah yang berkualitas secara kontinyu dengan jumlah yang mencukupi. Dari usulan pembentukan keanggotaan (membership) untuk para penulis, akhirnya berkembang usulan untuk membentuk suatu organisasi bagi para peneliti dan pemerhati biodiversitas, yang fungsinya tidak lagi hanya terkait dengan penerbitan jurnal, tetapi secara luas mencakup berbagai aktivitas para pihak yang terkait dengan penelitian, perlindungan, dan pemanfaatan biodiversitas secara berkelanjutan.

Pembentukan organisasi yang berbentuk “himpunan profesi” ini perlu dilakukan, karena belum ada organisasi yang khusus mewadahi bidang keahlian biodiversitas. Himpunan profesi ini diharapkan dapat mempertemukan para peneliti dan pemerhati biodiversitas di seluruh kepulauan Nusantara yang konsisten menggeluti bidang tersebut dan jumlahnya diyakini cukup banyak. Untuk itulah dibentuk himpunan profesi yang dinamai “Masyarakat Biodiversitas Indonesia” (Society for Indonesian Biodiversity).

Kegiatan

Berlokasi di Wonosobo, Jawa Tengah tanggal 14-16 Desember 2010, dengan agenda umum :

· Rapat Kerja Nasional Pengurus MBI dan Editor Biodiversitas

· Penyusunan Program Kerja Nasional dan Pelaporan Program Kerja Wilayah

· Perbaikan ManajemenJurnal Biodiversitas

· Penjurian “MBI Award 2010”

· Field trip “Kawasan Dataran Tinggi Dieng – Wonosobo”




PeKASL - Cangar

Pelatihan Konservasi Alam dan Satwa Liar (PeKA-SL)

Latar Belakang

Mahasiswa, Pecinta Alam dan organisasi mahasiswa yang bergerak dibidang pelestarian alam memiliki peran penting dalam mengawal kelestarian alam dan satwa liar Indonesia agar tetap lestari. Peningkatan pemahaman, wawasan dan ketrampilan mutlak diperlukan oleh gerasi muda sebagai bekal dalam melaksanakan kegiatan konservasi alam dan satwa liar di lapangan.

Untuk meningkatkan pengetahuan dalam bidang konservasi alam dan satwa liar di alam tersebut, P-WEC sebagai pusat lembaga pendidikan konservasi alam dan satwa liar akan menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Konservasi Alam dan Satwa Liar (PEKA-SL). Kegiatan PEKA-SL tersebut juga diharapkan bisa memfasilitasi para aktivis lingkungan dan pecinta alam agar terjalin komunikasi yang baik antar mahasiswa dan pecinta alam dari berbagai daerah di Indonesia yang peduli terhadap pelestarian alam.

Tujuan:

  • Meningkatkan skill dalam analisa dan kegiatan lapangan tentang konservasi alam dan satwa liar.
  • Meningkatkan pemahaman tentang pelestarian satwa liar dan habitatnya
  • Menjalin komunikasi antar mahasiswa, jurusan dan pecinta alam yang peduli terhadap pelestarian alam Indonesia

Waktu dan Tempat Kegiatan

Pelatihan Konservasi Alam dan Satwa Liar (PEKA-SL) ini akan dilaksanakan pada tanggal 12-15 Mei 2010 yang bertempat di Petungsewu Wildlife Education Center Malang - Jawa Timur ( P-WEC) dan Taman Hutan Raya R. Soeryo, Malang Raya - Jawa Timur

Sasaran Peserta

Mahasiswa jurusan biologi, kehutanan, pertanian, peternakan, perikanan, kelompok pecinta Alam dan organisasi lingkungan hidup. Untuk efektifitas pelatihan, peserta akan dibatasi jumlahnya sehingga sewaktu-waktu pendaftaran akan ditutup jika jumlah kuota peserta dirasa sudah mencukupi.

Konsep Kegiatan

Kegiatan Pelatihan Konservasi Alam dan Satwa Liar (PEKA-SL) ini akan dilaksanakan selama 4 (empat) hari berturut-turut mulai tanggal 12– 15 Mei 2010 dengan rangkaian kegiatan yang meliputi materi konservasi alam dan satwa liar yang mencakup 10 materi di dalamnya.

Peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah para mahasiswa dari jurusan biologi, kehutanan, pertanian, peternakan, perikanan dan pecinta alam dari kampus atau non kampus dengan harapan akan semakin banyak orang yang memahami konsep dasar konservasi alam dan satwa liar serta upaya pelestariannya.

Kegiatan ini dirancang dalam bentuk materi dalam ruangan selama dua hari dengan lima materi yang berbeda yang akan dilanjutkan dengan praktik di lapang selama dua hari di Tahura R. Soerjo. Pratek ini bertujuan membantu mengasah kemampuan peserta dalam melakukan observasi serta membangun sensitivitas terhadap permasalahan lingkungan sekitar sehingga peserta mampu menumbuhkan sikap respect terhadap alam dan satwa liar.

Dalam Kegiatan Pelatihan Konservasi Alam dan Satwa Liar (PEKA-SL) ini akan dilakukan beberapa kegiatan diantaranya:

  • Materi Ruang yang meliputi
    • Prinsip dasar konservasi alam dan satwa liar : Rosek Nursahid (Founder ProFauna Indonesia)
    • Analisis Vegetasi : Dr. Endang Arisoesilaningsih (Pakar Ekologi Universitas Brawijaya dan advisory board ProFauna)
    • Hukum perlindungan satwa liar: Rosek Nursahid (Founder ProFauna Indonesia)
    • Primate Watching : Qodirul Aini (Edukator P-WEC)
    • Metode sensus mamalia dan burung: Iwan Kurniawan (Direktur Javan Langur Conservation)
    • Jurnalistik Lingkungan: Bibin Bintariyadi (Wartawan Senior TEMPO)
    • Bird Watching: Made Astuti (Pengamat burung dan founder ProFauna)
    • Konservasi hutan: Radius Nursidi (forest campaign officer ProFauna Indonesia)
    • Pengenalan kawasan konservasi alam: Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA Jatim)
    • Pendidikan alternatif konservasi alam: Sri Hartati (education coodinator P-WEC)
  • Praktik lapang akan dilaksanakan di Tahura R. Soeryo selama dua hari.
    • Analisis vegetasi (anveg)
    • Bird watching dan primate watching
    • Metode sensus mamalia dan burung
    • Konservasi hutan
info seputar aktivitas konservasi hutan dan satwa liar dapat dilihat pada
http://www.p-wec.com

MC - Jepara UNDIP

MANGROVE CULTIVATION (MC)





LATAR BELAKANG

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air laut. Hutan mangrove di Indonesia merupakan salah satu yang terluas di dunia, yaitu mencapai 25% dari total luas hutan mangrove dunia. Ekosistem mangrove memiliki fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, nasional maupun global. Namun demikian, hutan mangrove mendapatkan tekanan yang sangat tinggi akibat perkembangan infrastuktur, pemukiman, pertanian, perikanan, dan industri. Salah satu tekanan yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove di Indonesia adalah proyek reklamasi pantai demi pemenuhan kebutuhan manusia dimana hampir 60% penduduk Indonesia bermukim di wilayah pantai. Selanjutnya, diperkirakan sekitar 200.000 ha mangrove di Indonesia telah mengalami kerusakan setiap tahunnya.

Untuk itulah, maka pemanfaatan potensi kawasan mangrove sebagai ekowisata menjadi sebuah alternatif dalam usaha konservasi ekosistem mangrove karena berfokus pada keutuhan wilayah alam dan pemeliharaan kondisi alam itu sendiri. Pengelolaan dan pelestarian mangrove bisa diterapkan melalui ekowisata hutan mangrove, dengan berbagai teknik pengelolaan seperti pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasiskan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu, dimana dalam konsep pengelolaan ini melibatkan seluruh stakeholder yang kemudian menetapkan prioritas–prioritas dengan berpedoman kepada tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Mengingat banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari keberadaan hutan mangrove, maka masyarakat, khususnya masyarakat pesisir harus turut diberdayakan dalam usaha pelestarian maupun rehabilitasi hutan mangrove tersebut, baik dengan cara memberikan peningkatan pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya ekosistem hutan mangrove, maupun dengan turut memberdayakan masyarakat dalam usaha pengelolaan hutan mangrove tersebut, melalui program pembibitan, penanaman dan penyulaman mangrove.

Atas dasar pemikiran tersebut di atas, maka KeSEMaT menyelenggarakan program tahunannya yang bertajuk MC 2010 yang bertujuan menjaga kelestarian dan menumbuhkembangkan rasa kepedulian pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum tentang arti pentingnya ekosistem mangrove.

TUJUAN UMUM

Sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan semangat konservasi terhadap ekosistem mangrove kepada pelajar, mahasiswa dan masyarakat.

TUJUAN KHUSUS

1. Meningkatkan pengetahuan peserta akan pentingnya ekosistem hutan mangrove.

2. Memberikan wawasan tentang manfaat pengelolaan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove melalui ekowisata hutan mangrove.

3. Memberikan pelatihan kepada peserta tentang tata cara membibitkan, menanam, menyulam dan menjaga kelangsungan ekosistem mangrove.

4. Menyiapkan bibit mangrove sebagai modal untuk penanaman mangrove pada Mangrove REpLaNT 2010.


WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

1. Seminar Nasional Mangrove For Ecotourism (MFE)

Hari/Tanggal : Sabtu, 8 Mei 2010

Tempat : Ruang Teater Kampus Ilmu Kelautan UNDIP, Teluk Awur, Jepara

2. Pelatihan Pembibitan dan Penyulaman Mangrove

Hari/Tanggal : Sabtu – Minggu, 8 – 9 Mei 2010

Tempat : Mangrove Education Center of KeSEMaT (MECoK), Teluk Awur, Jepara

3. Field Trip (FT)

Hari/Tanggal : Minggu, 9 Mei 2010

Tempat : Lokasi Kerajinan Ukir Desa Tahunan Jepara dan Masjid Agung Demak

info seputar aktivitas konservasi magrove dapat dilihat pada

http://kesemat.blogspot.com

Pengikut