Kareumbi - Bandung
Menyambung cerita
sebelumnya... ke Bogor mungkin tidaklah asing bagi saya, tapi sudah lama
(pertama kali tahun 2005 dan terakhir tahun 2010) banyak sekali perubahnya,
salah satunya stasiun Bogor. Sedangkan ke Bandung ini adalah kedua kalinya
(pertama kali tahun 2005 juga) namun hanya sebentar. Dulu ke Gunung Tangkuban
perahu, sekarang ke Gunung Masigit Kareumbi jadi memang agak asing Bandung bagi
saya.
Hari Jum’at jam3 sore
sampai di UNPAD, saya menunggu teman yang kebetulan sangat terkenal di kampus
ilkom UNPAD. Maklumlah ketiga teman ini seorang aktivis PROFAUNA dan bekerja
sebagai Dosen disana (Ceu Rinda, Nadia & Bu Titin). Dari teman ini,
direkomendasikan tempat penginapan terdekat untuk istirahat semalam dan
menunggu aktivitas BTN esok harinya.
Sebelum melanjutkan cerita
perjalanan Back to Nature, sebaiknya kita merencanakan perjalanan dengan baik.
Dalam perjalanan beberapa hari dan tujuan lokasi berbeda, seperti ke Bogor
kemudian ke Bandung, dengan aktivitas yang bertolak belakang, didalam ruang
(conference) dan diluar ruang (adventure). Pasti kebayang banyak barang
bawaannya.
Sudah bukan zamannya
lagi traveling sambil membawa banyak koper dan tas. Jangan salah, ini
backpacker Bro... bisa melenggang kemana-mana hanya dengan ransel kecil. Jadi tidaklah
sulit, banyak orang sudah melakukannya. Beberapa tip trip yang bermanfaat, seperti:
Bawalah tas punggung (bukan koper) untuk memudahkan perjalanan.Tas punggung inilah
asal nama backpacker. Ukuran tas ransel sebaiknya disesuaikan dengan
kebutuhan, postur tubuh dan lama perjalanan, serta penataan atau cara mengemas
barang. Packing dalam tas yang baik dan benar akan tersusun rapi sehingga
tas dapat menampung banyak barang, juga akan berpengaruh terhadap kenyamanan
dalam mengambil ataupun menaruh barang bila diperlukan dalam perjalanan. Rencana
perjalanan yang matang dengan budget yang efektif. Pemilihan sarana
transportasi, tempat penginapan dan perkirakan waktu secara tepat dapat
dilakukan dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya. Selanjutnya kebugaran
tubuh merupakan hal yang paling penting dalam persiapan traveling. Terakhir
bila akan bepergian, jangan lupa bawalah kamera untuk mengabadikan perjalanan,
alat komunikasi (hp / ht) dan alat navigasi (peta, kompas / gps) untuk
menghindari tersesat. dan obat-obatan pribadi, bisa menjadi barang pelengkap beraktivitas
ala backpacker.
Hari Sabtu, semua
teman-teman PROFAUNA berdatangan ke lokasi untuk BTN ke Masigit. Ada yang dari
Bandung sendiri, Yogya, Bogor, Cirebon, Cianjur dan Malang. Setelah semua
berkumpul, perjalananpun dimulai. Menyingkir sejenak dari hiruk pikuk kota dan
kesibukan sehari-hari. Menyepi, tinggal di atas rumah pohon, dengan tanpa
listrik dan tanpa sinyal telepon seluler pastinya. Menyatu dengan alam, mendengarkan kicauan
burung dan suara hewan sambil menghirup udara segar pegunungan.
Lokasi BTN kali ini terletak
sekitar 31 km di sebelah barat daya Bandung. Gunung Masigit merupakan salah
satu daerah di Jawa yang masih memiliki hutan hujan pegunungan yang masih baik
dan luas. Kawasan hutan Gunung Masigit dan Kareumbi ditetapkan sebagai Taman
Buru tahun 1976 dengan luas 12.420,70 Ha terletak di 3 kabupaten yaitu Kab. Bandung,
Kab. Sumedang dan Kab. Garut. Secara
geografis kawasan TB. Gunung Masigit-Kareumbi terletak antara 6°51′31” –
7°00′12” LS dan 107°50′30″” – 108°1′30” BT.
Topografi umumnya berbukit dan bergunung dan terdapat sumber air yang
merupakan hulu dari beberapa sungai seperti Sungai Cimanggu dan Sungai Citarik.
Kawasan ini termasuk
hutan pegunungan yang terbagi dalam dua kelompok yaituHutan Alam dan Hutan
Tanaman. Hutan alam diperkirakan ± 60% bagian yang didominasi oleh jenis Rasamala
(Altingia excelsa), Saninten (Castanea argentea), Pasang (Quercus sp.), Puspa
(Schima walichii), peutag (Eugenia clavymyrtus), kuray (Trema amboinensis) dan
jenis liana, epifit serta tumbuhan bawah. Sedangkan hutan tanaman meliputi ±
40% bagian yang didominasi oleh jenis pinus (Pinus merkusii), Bambu (Bambusa
sp) dan Kuren (Acasia decurens).
Potensi ekowisata atau
wisata yang berwawasan lingkungan, dikembangkan dalam 3 hal yaitu: konservasi,
pemberdayaan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat lokal serta aspek
pembelajaran. Beberapa kegiatan ekowisata yang dapat dilakukan antara lain: Hiking,
Mountain Biking, Bumi Perkemahan, Home Stay, Rumah Pohon, Bersampan, Body
board/ tubing, dst. Selain Ekowisata juga diadakan program adopsi / wali pohon serta
penangkaran Rusa.
Dalam perjalanan menuju lokasi Rumah Pohon, semilir angin pegunungan terasa sejuk saat kendaraan kami mulai bergerak mendaki jalan menuju arah Gunung Masigit. Sekitar satu setengah jam meninggalkan hiruk pikuk dan macetnya Bandung menuju arah Cicalengka, sungguh menyenangkan rasanya menghirup udara segar serta menikmati teduhnya pepohonan rindang di sisi jalan.
Beberapa jenis pohon tampak berukuran cukup besar, tanah yang lembab dan suasana yang agak gelap karena cahaya matahari hanya dapat menerobos di sela-sela lebatnya dedaunan segera menyambut kami. Meski sinyal tidak lagi ada saat memasuki kawasan, namun hal ini tidak mengurangi suasana riang yang dirasakan. Riang karena rindu ingin menikmati nyanyian alam, gemerisik dedaunan, pepohonan, serta suara burung dan satwa liar bersahutan di kedalaman hutan yang asri.
Segarnya, menikmati suasana bebas polusi dan bebas kebisingan yang biasa ditemui di keseharian kita. Tinggal di rumah pohon dikelilingi oleh pinus yang tinggi menjulang. Di tengah-tengah terdapat tempat yang cukup luas untuk berkumpul dengan lubang tempat api unggun. Kegiatan memasak dilakukan di rumah panggung yang agak menjorok ke tepi hutan. Sedangkan untuk mandi-cuci-kakus juga disediakan kamar mandi di belakang rumah pohon agak masuk ke dalam hutan. Meski fasilitasnya cukup sederhana, namun merasakan kesegaran mandi dengan air pegunungan sungguh memberi nuansa tak terkira.
Duduk berkumpul santai sambil berkenalan, bercerita dan bertukar pengalaman antara peserta BTN dengan pengelola TB Masigit di malam hari sambil menikmati alam merupakan salah satu dengan alternative refreshing yang cukup menyenangkan dan penawar kangen akan kebersamaan kita dengan alam.
Keesokan harinya, minggu
jam5 pagi, kami telah bersiap sebelum matahari beranjak tinggi untuk melakukan
pengamatan burung. Kemudian dilanjutkan dengan menuju lokasi penangkaran
rusa. Aktivitas adventure kecil-kecilan
ini sangat menarik dan cukup menyenangkan seperti traking dan meniti jembatan bambu ataupun melihat
perilaku satwa liar dialam secara lebih dekat (dengan binokuler maksudnya). Satu
lagi hal yang tidak terlupakan kita langsung menyelamatkan hutan dengan ikut
serta sebagai relawan untuk memadamkan kebakaran hutan yang terjadi di dalam
kawasan. Cukup padat aktivitas kami sampai tak terasa matahari sudah diatas
kepala. Kami kembali ke rumah pohon untuk berkemas meninggalkan Masigit,
mungkin hanya pengalaman yang akan terkenang dan siapa tau ada sumur di ladang
bolehlah menumpang mandi, apabila ada umur panjang mungkin bisa kembali lagi.
Sesampainya di UNPAD
Bandung semua peserta kembali ke tempat asalnya masing-masing dan saya pun
berangkat bersama 5 kawan yang kearah kota Bandung. Mereka ada yang
menginap semalam karena penerbangannya
baru besok pagi, ataupun naik kereta dengan tujuan yang berbeda. Saya kembali
sendiri dengan kereta malam dari St. Kota Bandung jam7 menuju ke Kota pahlawan
Surabaya. Sampai di Gubeng jam7 pagi hari Senin 25 oktober 2015.









